Kenapa ya saat seseorang Tanya “ikut ekstrakurikuler apa?” dan kita menjawab “PA atau pecinta alam” pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan balik kepada kita adalah “udah muncak kemana aja?”. Muncak sepertinya sudah menjadi prioritas utama dari seorang pecinta alam. Dan kalau belum pernah muncak, bukan pecinta alam namanya. Saya rasa 95% anggota pecinta alam sudah pernah muncak. Paling nggak bromo atau gunung sekitar. Padahal jika dilihat dari namanya prioritas utama pecinta alam adalah mencintai seluruh alam atau makhluk di muka bumi dan diawali dari menjaga lingkungan sekitar. Kalo lingkungan di dekatnya saja belum terjaga bagaimana akan merawat lingkungan luas?
Pada kenyataannya banyak pecinta alam yang mendaki hanya sekedar untuk refreshing atau bersenang-senang saja. Kalo refreshing niatnya, kenapa tidak pergi kesawah saja. Sama kan? Duduk dibawah pohon pisang beralaskan semak belukar. Apalagi sambil mengusir burung pemakan padi sawah. Bukankah itu jauh bermanfaat. Bahkan jauh lebih praktis, ekonomis, and gelis tentunya. Beberapa orang pasti menilai pemikiranku ini sungguh jadul, tapi apa salahnya dicoba.
Tidak sedikit pula yang malah membuang sampah di gunung atau hutan. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah putung rokok yang dibuang di alam. Alam bukanlah tempat sampah yang berukuran super jumbo atau TPA yang setiap saat digunakan sebagai tadah sampah. Ada juga yang melukai pohon dan batu dengan tulisan-tulisan tak penting. Jika itu yang mereka lakukan, yang jadi pertanyaan adalah “apakah mereka pantas disebut sebagai pecinta alam?”.
Menurut saya pecinta alam adalah mereka yang mau melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk alam, berinovasi untuk kepentingan alam. Tukang sampah jauh lebih pantas disebut dengan pecinta alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar